Pengaruh Lumut Terhadap Tanaman Hidroponik

Q: Apakah lumut berpengaruh terhadap tanaman secara hidroponik? Bagaimana cara mengatasinya?

A: Lumut adalah sejenis tanaman yang biasanya tumbuh di tempat lembab yang terkena sinar matahari. Sebagai sejenis tanaman, lumut tentu berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman hidroponik. Lumut akan ikut menyerap nutrisi hidroponik, sehingga menyebabkan tanaman sayur menjadi kekurangan nutrisi. Efek samping lainnya, nutrisi hidroponik akan cepat habis.

Menutup bak penampung (Warna hijau di sisi kiri bawah) bisa mencegah lumut, sekaligus mengurangi penguapan cairan nutrisi

Cara mengatasinya sebenarnya cukup mudah, meluputi pencegahan dan pembersihan. Pencegahan bisa dilakukan dengan:

  1. Menutup bak penampung. Cairan nutrisi dalam bak penampung, yang penuh dengan unsur hara, akan menjadi rangsangan yang tepat untuk pertumbuhan lumut di dinding bak penampung.
  2. Menggunakan selang berwarna hitam. Sama seperti bak penampung, cairan nutrisi yang mengalir di selang akan merangsang pertumbuhan lumut di dinding selang. Dengan menggunakan selang berwarna hitam maka sinar matahari tidak bisa menembus masuk.
Perbandingan saluran hidroponik sebelum dan sesudah dibersihkan

Bagian lainnya yang suka ditumbuhi lumut adalah di pipa paralon sekitar akar tanaman. Sinar matahari menembus celah-celah antara net pot dan pipa PVC, merangsang pertumbuhan lumut. Untuk yang satu ini, pertumbuhan lumut dapat diatasi dengan melakukan pembersihan rutin. Industri hidroponik komersial skala besar melakukan pembersihan saluran hidroponik setiap selesai panen. “Tanaman jadi lebih subur”, menurut salah seorang praktisi hidroponik.

Cabe Hidroponik Tahap 2

Beberapa saat yang lalu Kebun Teras melakukan percobaan menanam cabe hidroponik. Metode yang digunakan adalah metode sumbu, dengan pertimbangan lebih sederhana untuk perawatan. Hasilnya cukup memuaskan. Dalam waktu 1 bulan tanaman cabe sudah mulai berbunga dan berbuah.

Akan tetapi, meskipun cepat berbuah dan dipetik, ada beberapa masalah yang dihadapi dalam menanam cabe hidroponik ini:

  1. Tanaman cabe bisa tumbuh cukup tinggi. Ketika tanaman cabe tumbuh semakin tinggi, maka dibutuhkan akar yang kuat. Dalam eksperimen ini cabe hidroponik ditanam didalam netpot kecil, dengan menggunakan rockwool. Hasilnya, tanaman cabe menjadi mudah miring.
  2. Akar tanaman hidroponik yang ditanam dengan sistem sumbu cenderung memanjang. Akar yang panjang ini lama kelamaan menjadi jelek. Akibatnya tanaman lama kelamaan menjadi tidak produktif, dan mati. Tanaman cabe hidroponik hasil eksperimen Kebun Teras cukup produktif selama 1 bulan. Setelah itu, hasil panen menjadi semakin berkurang.

Untuk menjawab 2 hal di atas, percobaan tahap 2 dilanjutkan dengan mengubah media tanam dan sistem hidroponik yang digunakan. Media tanam tahap 2 ini menggunakan sekam bakar. Pot yang digunakan juga bukan netpot, tetapi gelas bekas air mineral. Dengan menggunakan sekam dan gelas bekas air mineral diharapkan akar tanaman akan lebih kokoh, sehingga tidak mudah jatuh.

Mungkin sebagian orang akan bertanya, bukankah penggunaan rockwool dalam tanaman hidroponik komersial adalah keharusan untuk mendapatkan harga jual yang lebih tinggi? Dalam tanaman cabe hidroponik, karena yang dijual adalah buah dari tanaman, maka media tanam yang digunakan tidak akan terlihat oleh pembeli.

Perubahan kedua adalah metode hidroponik yang digunakan, dari metode sumbu menjadi metode DFT. Dari pengalaman, tanaman yang ditanam menggunakan metode DFT akan memiliki akar yang lebih pendek. Dengan demikian, diharapkan agar akar tanaman tidak cepat rusak.

Dua bibit cabe hidroponik. Sebelah kiri dalam gelas air mineral bulat berisi bibit dari Sambal Bu Majun, sedangkan sebelah kanan dalam gelas air mineral kotas adalah bibit Dewata F1

Dengan kedua perubahan tesebut diharapkan tanaman cabe hidroponik bisa lebih awet dan menghasilkan cabe lebih banyak. Terakhir, Kebun Teras juga mencoba 2 jenis bibit cabe. Silahkan ikuti perkembangan selantjunya di tag #cabehidroponik